BLOG DALAM MASA PERBAIKAN!!

Kamis, 20 Maret 2014

Dakwah 1

Dalam kehidupan sehari hari kita banyak melihat para pendakwah atau para mubaligh dalam menyampaikan pesan pesan dakwahnya, baik itu di forum formal maupun informal. Tapi pada posting kali ini saya tidak akan membahas mengenai para mubaligh melainkan mengenai bagaimana cara yang baik untuk berdakwah.
Mungkin sudah banyak para penulis, guru, dosen, ulama dll yang menyampaikan tentang bagaimana berdakwah yang baik dan benar. Posting kali ini hanya akan mengingatkan kembali bagi para pembaca yang sudah mengetahui cara-cara berdakwah dan pastinya akan terasa hal yang baru bagi pembaca yang belum mengetahui. Inilah sebuah proses belajar.
Proses dakwah tentunya merupakan sebuah pekerjaan ataupun profesi yang sangat mulia, karena dimana seorang mubaligh atau da'i menyampaikan pesan-pesan yang berhubungan dengan kegiatan atau aktifitas kita selama di dunia berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah atau hadits yang merupakan sumber ajaran agama Islam. Tapi muncul pertanyaan apakah para pendakwah tersebut sudah melakukan apa yang ia sampaikan kepada ummat? Itu merupakan sebuh pertanyaan yang besar.
Allah berfirman dalam surat Ash shaff ayat 3,

"Amat besar kebencian di sisi Allah apabila kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan"

Ayat tersebut sudah menggambarkan dengan begitu jelas terhadap orang-orang yang hanya bisa menyuruh tapi dirinya sendiri belum mengerjakan, apalagi dengan seorang pendakwah yang kegiatannya sebagian besar untuk membimbing, menasihati dan mengingatkan ummat. Nah berangkat dari ayat tersebut ada berbagai hal yang seharusnya diperhatikan para pendakwah terkait dengan cara berdakwah yang baik dan benar, yaitu:
1. Niat
Sudah pasti niat seseorang untuk berdakwah menegakkan agama Allah harus didasarkan niat yang lurus. Pada saat ini kita harus benar-benar secara totalitas dalam melakukan niat jangan sampai ditengah jalan dalam berdakwah kita sudah berubah niat. Tujuannya untuk apa mempunyai niat yang totalitas, yaitu agar dalam melaksanakan proses dakwah segalanya berjalan dengan ikhlas, lancar dan berserah diri pada Allah tentunya. Mengutip dari seorang guru, ia berkata "tidak akan mendapat pahala orang-orang yang berdakwah tapi berniat hanya untuk mendapatkan upah". Bagaimana niat itu sangatlah penting bukan hanya dalam melakukan dakwah tapi dalam melakukan segala sesuatu, segala sesuatu itu tergantung pada niat dan seseorang akan mendapatkan pahala sesuai dengan apa yang di niatkannya.
2. Awali dari diri sendiri
Apa maksudnya, jadi jika kita ingin berdakwah kepada khalayak, mulailah dari diri sendiri. Tentunya banyak yang harus dilakukan, setelah berniat lalu siapkanlah ilmu yang matang, ilmu apa? tentunya ilmu agama, sementara ilmu agama itu banyak sekali, seperti ilmu Al Qur'an, ilmu Hadits, Fiqh, Bahasa Arabnya dll. tujuannya agar dalam berdakwah dapat memudahkan kita apalagi jika ada jamaah yang bertanya minimal seorang pendakwah mempunyai ilmu di bidang tertentu yang ia kuasai. Lalu persiapan mental diri juga harus dilakukan agar nanti pada saat berdakwah di khalayak sudah tidak ada rasa takut atau gugup, berfikirlah bahwa apa yang kita sampaikan merupakan apa yang Nabi dan ulama ajarkan dan seorang pendakwah sebagai generasi berikutnya yang menerima tongkat estavet yang harus menjalankannya. Kemudian perbaikilah apa yang ada dalam diri kita, seperti tauhid, aqidah, sikap, perilaku dll agar nantinya orang memantaskan diri kita sebagai seorang pendakwah. Karena sekarang ini banyak fenomena yang memilukan bagaimana sikap dari para seorang da'i atau mubaligh yang bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Islam, seperti kekerasan dll padahal Nabi Muhammad SAW pun tidak pernah mengajarkan untuk berbuat jahat bakan dengan orang yang berbeda Agama, semuanya dilakukan oleh Nabi dengan lembut dan berserah diri pada Allah.
3. Berdakwah kepada keluarga
Setelah kita berdakwah pada diri sendiri kita bisa memulai ketingkat yang selanjutnya untuk berdakwah kepada keluarga kita. Kita bisa mengajarkan keluarga kita dari yang kecil dan yang besar tentang ilmu agama, baik itu mengaji, cara shalat yang benar dll, bagaimana jika mereka tidak mau? teruslah berusaha jangan berputus asa, siapa tahu dengan kita berusaha hidayah akan datang.
4. Berdakwah kepada masyarakat
Tingkat selanjutnya, kita bisa memperluas dakwah kita ke masyarakat di tempat kita berada dengan membuka pengajian, menjadi imam shalat, aktif di berbagai kegiatan warga sekalian sebagai sarana dakwah, dan masih banyak lagi caranya.
5. Berdakwah kepada Ummat
Dan level teratas adalah bagaimana seorang da'i atau mubaligh berdakwah untuk ummat, setelah dari awal ia berdakwah membenari diri, kemudian dilanjutkan dengan keluarga, masyarakat sekarang saatnya ia berdakwah untuk ummat, apalagi di indonesia adalah manusia yang heterogen. Pada saat sampai level ini, pendakwah dituntut untuk bisa membaca objek dekwah yaitu mad'u sebagai orang yang mendengarkan dakwah. maksudnya membaca adalah, da'i dituntut untuk bisa melihat situasi dan kondisi dimana ia berdakwah, apakah dihadapan orang orang yang mempunyai taraf ekonomi tinggi atau rendah, apakah dihadapan orang orang berilmu atau biasa saja, apakah berdakwah di desa atau kota. Semua hal tersebut harus diperhatikan karena dengan memperhatikan hal tersebut seorang pendakwah bisa mengetahui dengan metode apa yang bisa ia gunakan. sehingga proses dakwah akan berhasil.
dari semua tips diatas yang terpentng adalah keyakinan. Yakinlah tidak usah ragu atau takut karena apa yang kita sampaikan adalah sebuah kebenaran. Dan urusan apakah dakwah kita diterima atau didengar atau masuk kedalam hati mad'u itu kehendak dari Allah, dai hanya sekedar menyampaikan.
Semoga yang sedikit ini bermanfaat, tak ada gading yang tak retak, begitu juga dengan tulisan ini yang masih banyak kekurangan, jika ada yang mempunyai pandangan lain atau menambahkan, silahkan. 

Senin, 03 Maret 2014

Wasiat IMAM Hasan Al-Bana



IMAM Hasan Al-Bana, pendiri gerakan dakwah Ikhwan yang terkenal ke seluruh dunia, banyak meninggalkan catatan penting pada sejarah perjuangan Islam modern. Ingat, kehadiran Imam Hasan bertepatan dengan hanya beberapa saat setelah hancurnya kekhalifan Islam yang terakhir. Tak pelak, setelah kepergian beliau, tak ada lagi figur dakwah yang bisa dijadikan acuan dalam gerakan Islam.
Setiap hari, dalam dakwahnya, ia berjalan kaki tidak kurang dari 20 KM. Beliau menyambangi desa-desa dan dilakukannya tanpa pamrih sedikitpun dari manusia. Ia duduk di warung kopi pada beberapa malam, menyatu dengan masyarakat yang sebenarnya, dan ia mampu mengingat nama orang yang baru saja ditemuinya walaupun hanya sekali, sehingga orang yang diajak bicara olehnya menjadi simpati.
Banyak warisan dari Imam Hasan yang sangat menggelorakan semangat dakwah Islam. Berikut ini beberapa di antaranya dari sekian wasiat-wasiatnya:
1.      Bangunlah segera untuk melakukan sholat apabila mendengar adzan walau bagaimanapun keadaannya.
2.      Baca, Telaah dan dengarkan Al-Quran atau dzikirlah kepada Allah dan janganlah engkau menghambur-hamburkan waktumu dalam masalah yang tidak ada manfaatnya.
3.      Bersungguh-sungguhlah untuk bisa berbicara dalam bahasa Arab dengan fasih.
4.      Jangan memperbanyak perdebatan dalam berbagai bidang pembicaraan sebab hal ini semata-mata tidak akan mendatangkan kebaikan.
5.      Jangan banyak tertawa sebab hati yang selalu berkomunikasi dengan Allah (dzikir) adalah tenang dan tentram.
6.      Jangan bergurau karena umat yang berjihad tidak berbuat kecuali dengan bersungguh-sungguh terus-menerus.
7.      Jangan mengeraskan suara di atas suara yang diperlukan pendengar, karena hal ini akan mengganggu dan menyakiti.
8.      Jauhilah dari membicarakan kejelekan orang lain atau melukainya dalam bentuk apapun dan jangan berbicara kecuali yang baik.
9.      Berta’aruflah dengan saudaramu yang kalian temui walaupun dia tidak meminta, sebab prinsip dakwah kita adalah cinta dan ta’awun (kerja sama).
10.  Pekerjaan rumah kita sebenarnya lebih bertumpuk dari pada waktu yang tersedia, maka manfaatkanlah waktu dan apabila kalian mempunyai sesuatu keperluan maka sederhanakanlah dan percepatlah untuk diselesaikan.

Kekaguman seorang Yahudi pada Al Qur'an



Bagi kaum Muslim, mengagumi Al Quran barangkali menjadi hal yang biasa. Apalagi dengan penemuan-penemuan terakhir dari para ilmuwan yang kian mengokohkan kebenaran Al Quran. Di antaranya, bulan yang pernah terbelah, adanya sungai bawah laut hingga penemuan jejak arkeologi kaum-kaum terdahulu. Memang semua tidak disebutkan, karena Al Quran menerangkan hanya sebagian dari kisah kaum terdahulu yang akan ditampakkan bekas-bekasnya.
“Itu adalah sebagian dari berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang Kami ceritakan kepadamu (Muhammad); di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya dan ada (pula) yang telah musnah.” (QS. Huud, 11: 100)
Ternyata, bukan hanya kaum Muslimin dan ilmuwan berakal saja yang mengagumi Al Quran, sebagai kitab yang tetap terjaga keshahihannya. Bahkan sejak dulu kaum Yahudi juga mengagumi Al Quran. Dalam sebuah riwayat dikisahkan perbincangan antara ‘Umar bin Khattab dan Yahudi.
Dari Thariq bin Syihab, ia mengatakan bahwa orang-orang Yahudi berkata kepada Umar bin Khattab:
“Kalian membaca sebuah ayat dalam Kitab (al-Qur’an) kalian. Sungguh apabila ayat itu turun kepada kami bangsa Yahudi, tentu hari turunnya ayat itu akan kami jadikan sebagai hari raya.”
Umar bertanya: “Ayat yang mana?”
Mereka menjawab, “Hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Aku sempurnakan nikmat-Ku untukmu.” (Al-Maidah: 3)
Umar berkata, “Demi Allah, sesungguhnya aku betul-betul mengetahui hari apa ayat itu turun kepada Rasulullah dan saat apa ayat itu turun. Ayat itu turun kepada Rasulullah pada sore hari Arafah, hari Jum’at.”
Percakapan di atas juga menegaskan, semestinya seorang muslim, bangga dengan keislamannya, sebab Allah telah menjamin kesempurnaan Islam. Dengan kebenaran dan kesempurnaan Islam, seorang muslim tidak perlu lagi bingung mencari sistem yang lebih baik ketimbang Islam.
Imam Thabrani telah mengeluarkan riwayat hadits dari Abu Dzar al-Ghifari yang menyatakan, “Rasulullah telah meninggalkan kami dalam keadaan tidak ada seekor burung pun yang mengepakkan sayapnya di udara melainkan beliau telah menyebutkan ilmu kepada kami setiap kali kepakan sayap burung itu.”

Dengan kebenaran dan kesempurnaan Islam, dunia pernah merasakan buahnya kurang lebih seribu tahun, sejak Rasulullah hingga kekhilafahan Turki Utsmani pecah pada tahun 1924 masehi.
Jika orang Yahudi saja bisa berkata seperti itu, apakah sebagai muslim kita tidak bangga dengan Islam?

Cerita Hikmah



Kisah ini diceritakan oleh Khalid al-Jubair seorang dokter konsultan penyakit jantung di Riyadh sebagai berikut :

Suatu hari, aku mendapat giliran jaga. Tiba-tiba
aku dipanggil ke ruang gawat darurat, di sana ada seorang pemuda berusia 16 - 17 tahun sedang menghadapi sakaratul maut.

Orang-orang yang datang bersamanya bercerita, "Dia sebelumnya sedang membaca Al-Qur'an di masjid menunggu iqamah shalat subuh. Ketika iqamah dikumandangkan, dia mengembalikan mushafnya ke tempat semula, lalu berdiri lurus dengan barisan. Tiab-tiba dia roboh pingsan dan kami membawanya ke sini.

Beberapa menit kemudian, aku kembali, aku melihat pemuda itu memegang tangan perawat, sedangkan perawat itu mendekatkan telinganya ke mulut sang pasien yang sedang berbisik kepadanya.

Beberapa saat kemudian pemuda itu melepaskan tangan sang perawat, kemudian mengucap, "Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah" (aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah).

Dia berulang kali membacanya sampai dia meninggalkan dunia yang fana' ini dan perawat itu pun menangis.

Kami heran melihat dia menangis, karena ini bukan pertama kali dia melihat orang meninggal atau sekarat. Ketika dia agak tenang, kami bertanya, "Apa yang dibisikkan pemuda itu kepadamu dan kenapa kamu menangis..?"

Dia menjawab, "Dokter Khalid, ketika dia melihat Anda menyuruh saya untuk segera menanganinya serta Anda mondar-mandir, dia tahu bahwa Anda adalah orang yang bertanggung jawab merawatnya, lalu dia memanggil saya dan berbisik, ...

'Katakan kepada dokter jantung itu, janganlah dia menyusahkan diri sebab aku ini sudah mati. Demi Allah, aku sungguh melihat bidadari dan aku melihat tempatku di surga.' Kemudian dia melepaskan tangan saya."

Semoga beranfaat yang sedikit ini (Kisah-Kisah Penggugah Jiwa oleh : Abdurrahman Bakar)

Wanita Mulia Yang Makamnya Harum Semerbak


wanita mulia tersebut bernama Siti Masyitoh yang hidup pada zaman Fir’aun dan sekaligus menjadi pembantu mengurus anak-anak dari raja Fir’aun.

“Apa, di dalam kerajaanku sendiri ada pengikut Musa?” Teriak Fir’aun dengan amarah yang membara setelah mendengar cerita putrinya perihal keimanan Siti Masyitoh. Hal ini bermula ketika suatu hari Siti Masyitoh sedang menyisir rambut putri Fir’aun, tiba-tiba sisir itu terjatuh, seketika Siti Masyitoh mengucap Astagfirullah. Sehingga terbongkarlah keimanan Siti Masyitoh yang selama ini disembunyikannya.

“Baru saja aku menerima laporan dari Hamman, mentriku, bahwa pengikut Musa terus bertambah setiap hari. Kini pelayanku sendiri ada yang berani memeluk agama yang dibawa Musa. Kurang ajar si Masyitoh itu,” umpat Fir’aun.

“Panggil Masyitoh kemari,” perintah Fir’aun pada pengawalnya. Masyitoh datang menghadap Fir’aun dengan tenang. Tidak ada secuil pun perasaan takut di hatinya. Ia yakin Allah senantiasa menyertainya.

“Masyitoh, apakah benar kamu telah memeluk agama yang dibawa Musa?”. Tanya Fir’aun pada Masyitoh dengan amarah yang semakin meledak.

“Benar,” jawab Masyitoh mantap.

“Kamu tahu akibatnya? Kamu sekeluarga akan saya bunuh,” bentak Fir’aun, telunjuknya mengarah pada Siti Masyitoh.

“Saya memutuskan untuk memeluk agama Allah, maka saya telah siap pula menanggung segala akibatnya.”

“Masyitoh, apa kamu sudah gila! Kamu tidak sayang dengan nyawamu, suamimu, dan anak-anakmu.”

“Lebih baik mati daripada hidup dalam kemusyrikan.”

Melihat sikap Masyitoh yang tetap teguh memegang keimanannya, Fir’aun memerintahkan kepada para pengawalnya agar menghadapkan semua keluarga Masyitoh kepadanya.

“Siapkan sebuah belanga besar, isi dengan air, dan masak hingga mendidih,” perintah Fir’aun lagi.

Ketika semua keluarga Siti Masyitoh telah berkumpul, Fir’aun memulai pengadilannya.

“Masyitoh, kamu lihat belanga besar di depanmu itu. Kamu dan keluargamu akan saya rebus. Saya berikan kesempatan sekali lagi, tinggalkan agama yang dibawa Musa dan kembalilah untuk menyembahku. Kalaulah kamu tidak sayang dengan nyawamu, paling tidak fikirkanlah keselamatan bayimu itu. Apakah kamu tidak kasihan padanya.”

Mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Fir’aun, Siti Masyitoh sempat bimbang. Tidak ada yang dikhawatirkannya dengan dirinya, suami, dan anak-anaknya yang lain, selain anak bungsunya yang masih bayi. Naluri keibuannnya muncul. Ditatapnya bayi mungil dalam gendongannya.

“Yakinlah Masyitoh, Allah pasti menyertaimu.” Sisi batinnya yang lain mengucap.

Ketika itu, terjadilah suatu keajaiban. Bayi yang masih menyusu itu berbicara kepada ibunya,

“Ibu, janganlah engkau bimbang. Yakinlah dengan janji Allah.” Melihat bayinya dapat berkata-kata dengan fasih, menjadi teguhlah iman Siti Masyitoh. Ia yakin hal ini merupakan tanda bahwa Allah tidak meninggalkannya.

Allah pun membuktikan janji-Nya pada hamba-hamba-Nya yang memegang teguh (istiqamah) keimanannya. Ketika Siti Masyitoh dan keluarganya dilemparkan satu persatu pada belanga itu, Allah telah terlebih dahulu mencabut nyawa mereka, sehingga tidak merasakan panasnya air dalam belanga itu.

Demikianlah kisah seorang wanita shalihah bernama Siti Masyitoh, yang tetap teguh memegang keimanannya walaupun dihadapkan pada bahaya yang akan merenggut nyawanya dan keluarganya.

Ketika Nabi Muhammad Saw. isra dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Palestina, beliau mencium aroma wangi yang berasal dari sebuah kuburan.

“Kuburan siapa itu, Jibril?” tanya baginda Nabi.

“Itu adalah kuburan seorang wanita shalihah yang bernama Siti Masyitoh,” jawab Jibril.


Semoga bermanfaat (diambil dari berbagai sumber bacaan)